Bang Rizanul Arifin, Jurnalis ‘Senior’ Pelanggan Warkop Jurnalis

Kalau ke Medan, rasanya wajib menghubungi abang satu ini. Terus ceria dan segar di usia ‘senior’.

Rizanul Arifin, jurnalis amat senior di Medan. Kami bersalaman setelah setahun setengah tak jumpa. Bagaimana kabarnya, baik kah?

“Orang yang selalu berbuat baik senantiasa sehat,“ katanya sembari tertawa. Kami terhubung dalam Whats App Group sesama alumnus International Visitor Leadership Program (IVLP), program kunjungan singkat ke Amerika Serikat dibiayai Kementerian Luar Negeri Abang Sam. Rizanul bermuibah ke Amrik pada 2007, lima tahun lebih awal dari giliran saya.

Ia tak mau menyebut usia sebenarnya, saat saya menebak di atas angka 60 tahun. Pun saat berkali-kali digoda dengan sapaan jurnalis ‘senior‘.

“Ah, senior itu kan artinya ’sering ninggalin kantor’,” kata Bang Riza, sapaan akrabnya. Ia memang punya banyak kantor dalam curriculum vitae-nya. Lama di ‘Medan Bisnis‘, koran cetak legendaris ’Mimbar Umum‘, pernah di Tabloid Adil, project USAID, dan membantu berbagai media lokal.

Kini, selain aktivitas momong cucu satu-satunya, Bang Riza kerap tampil di Podcast Youtube ‘Medan Orbit‘.Tengoklah kisahnya mewawancarai korban judi online dan scam di Kamboja, jauh sebelum kasus itu meledak belakangan. Judul wawancara itu sangat eyecatching: Miris, Pekerja Judol dan Scam di Kamboja Tak Capai Target ‘Disiksa’ hingga Dijual ke Perusahaan Lain.

Bang Riza mengaku menikmati menjadi host podcast seperti itu. “Ini bukan soal cuan yang didapat, tapi bagaimana memberi tempat bagi ‘voice of the voiceless‘. Hidup itu diukur dari bagaimana memberi manfaat bagi orang lain,” kata pria berambut perak ala Lorenzo Lamas aktor serial Renegade’.

Siang jelang Salat Jumat, ia mengajak bertemu di Warung Kopi Jurnalis kawasan Agus Salim, Madras Hulu, Medan. Secangkir Americano dan cemilan stik kering jadi teman ngobrol. Di sini keseniorannya tak bisa bohong. Satu per satu ia kenalkan siapa yang datang di warkop dua sisi itu. Satu ’Warkop Jurnalis’ dan satunya ’WIB, Warung Incek Budi’. Mana yang pemiliknya -Bang Iskandar asal Aceh-, juga siapa wartawan senior RCTI, penggemar PSMS Medan, dan para aktivis lain.

”Sudah 17 tahun tempat ngopi jurnalis ini berdiri. Kami kerap bertukar informasi. Bahkan, tak jarang polisi yang ikutan bergerak begitu tahu rombongan jurnalis bergegas pergi mendadak bersamaan,“ katanya disambut tawa kami berdua.

Dari Warkop Jurnalis, Bang Riza mengantar ke Istana Maimun, objek wisata legendaris di jantung kota Medan. Ini istana Kesultanan Deli yang ikonik, dibangun tahun 1888-1891 oleh Sultan Ma’mun Al Rasyid dengan desain unik perpaduan gaya Melayu, Eropa, dan Timur Tengah, berfungsi sebagai cagar budaya, museum, dan objek wisata yang menampilkan koleksi sejarah, arsitektur megah, serta Meriam Puntung legendaris. 

“Harusnya sebagai cagar budaya, Istana Maimun bisa lebih elok lagi,“ ucapnya. Tapi sekarang lihatlah, jadi Pasar Malam lengkap dengan komidi putarnya. Siang itu, ada kunjungan dari murid sekolah rakyat Deli Serdang ke istana berwarna kuning keemasan, warna khas kebesaran Melayu, di kawasan Brigjen Katamso, Aur, Medan Maimun ini.

Terima kasih waktu berharganya, Bang Riza. Sehat, panjang umur, dan teruslah berguna bagi sesama…

Leave a Reply

Your email address will not be published.