Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020
Ini tentang film, Love for Sale, yang lagi diputar di berbagai bioskop di Indonesia. Tentu saja saya menulis artikel ini bukan karena saya kebagian main beberapa detik di film berdurasi 104 menit produksi Visinema itu, tapi karena karya-karya garapan Andibachtiar Yusuf emang selalu keren.
Kadang kesempatan terbaik nonton film dengan serius justru terjadi ketika dalam perjalanan pesawat terbang. Ini juga yang saya alami saat pekan lalu menghabiskan film ‘Sweet 20’ dalam perjalanan pergi dan pulang Jakarta-Kualanamu.
Sesuai dugaan, film Dilan 1990 meledak. Pada hari pertama penayangan di tanah air, Kamis 25 Januari 2018, film garapan sutradara Fajar Bustomi ini langsung meraup total penonton 225 ribu orang. Dilan 1990 yang diproduksi Falcon dan Max Pictures tampil di 389 layar di seluruh Indonesia.
Akhirnya, tamat sudah mengikuti 13 episode ‘The Publicist’, rangkaian sekuel film yang dibuat Viu Indonesia dalam web portal mereka, untuk mengenalkan aplikasi premium untuk nonton film -awalnya berupa drama-drama Korea- ini.
Tv One, Padang Tv atau tv-tv lain silahkan saja memutar film G 30 S-PKI. Dengan pro kontra dan trending topics seperti ini, kalian akan menangguk banyak iklan, untuk sebuah tayangan yang panjang durasinya melebihi ILC, satu hal yang tak didapat TVRI saat memuter film ini pada 1985 hingga 1997.
Dalam buku ‘Menjadi Indonesia’, produser dan pemilik Visinema Pictures Angga Dwimas Sasongko menirukan pernyataan Andibachtiar Yusuf. “Gua butuh karya yang bisa diingat orang secara universal, tanpa ada batasan budaya dan geografis. Gua yakin Love for Sale lah barangnya,” kata Ucup –panggilan sutradara yang telah menghasilkan tiga karya fiksi panjang, tiga documenter panjang dan beberapa film pendek itu.
Dalam sebuah pengumuman yang konyol, La La Land tak jadi meraih penghargaan ‘Best Picture’ Academy Award 2017. Tapi, scene meng-endorse pariwisata Indonesia tetap tak akan terlupa.
Epik benar pengumuman pemenang tertinggi Academy Awards 2017 di Dolby Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat, Senin pagi, 27 Februari 2017 Waktu Indonesia. Sebagaimana dituliskan CNN Indonesia, duo artis senior Warren Beatty dan Faye Dunaway sempat menyebut La La Land sebagai pemenang Best Picture alias Film Terbaik 2017.
JAKARTA – Bertajuk ‘Pantja-Sila, Cita-Cita & Realita’, sebuah film dokumenter pidato Bung Karno tentang lahirnya Pancasila sebagai filosofi bangsa direncanakan diputar di jaringan bioskop XXI pada 17 Agustus 2016, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-71.
Film berdurasi 80 menit ini adalah hasil produksi Jakarta Media Syndication & Gepetto Productions, disutradarai oleh Tino Saroengallo dan Tio Pakusadewo. Tio, peraih Piala Citra 1991, sekaligus berperan sebagai Bung Karno, satu-satunya aktor dalam film ini.
Membawa nama besar film pertamanya, Rudy Habibie alias Habibie & Ainun 2 seperti kelimpungan menggendong beratnya beban itu.
Habibie & Ainun, dirilis pada akhir 2012, memang fenomenal. Film yang dibintangi duo Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari (BCL) itu sukses menembus 4 juta jumlah penonton, sekaligus masuk dalam short-lists film Indonesia terlaris sepanjang sejarah. Didahului novel berdasar kisah nyata berjudul serupa yang terjual hingga ratusan ribu eksemplar, film Habibie & Ainun begitu menggetarkan loket-loket gedung bioskop. Bahkan termasuk ‘Cinta Sejati’, lagu tema yang juga dinyanyikan BCL, seolah menjadi lagu abadi.“Saat aku tak lagi di sisimu Ku tunggu kau di keabadian… Cinta kita melukiskan sejarah… Menggelarkan cerita penuh suka cita… Sehingga siapa pun insan TuhanPasti tahu cinta kita sejati…”