Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020
Anak-anak ikut kampanye, kerap jadi topik seksi liputan kampanye.
Partai Gerakan Indonesia Raya alias Gerindra menuai sukses besar pada kampanye akbarnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Maret lalu. Tanda-tanda partai ini akan meraup suara banyak juga terlihat, meski mungkin tak sampai diperkirakan bisa tembus tiga besar, termasuk mengalahkan sang juara bertahan.
Galau. Satu kata itu yang tepat untuk mendeskripsikan suasana hati partai banteng moncong putih. Perolehan suara tak sesuai proyeksi jadi masalahnya.
Target PDI-P menang tebal bersama Joko Widodo sebagai calon presiden urung terlaksana. Tertatih-tatih menyentuh 20 persen perolehan suara nasional, membuat PDI Perjuangan harus berpikir keras lagi untuk pencalonan capres, siapa koalisi yang digandeng, dan siapa calon wakil presidennya. Jum’at (11/4) malam, usai pertemuan mendadak dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri, Jokowi menyatakan, pihaknya telah menginventarisir, setidaknya ada nama lima calon wakil presiden.
Sejak awal, partai ini tak terlalu ngotot menjagokan ikonnya sebagai calon presiden. Siapa sangka, kini Nasdem menjadi penentu bisa tidaknya PDI-P maju ke kontestasi pemilihan presiden.
Sejarah Nasdem diawali dari dibentuknya organisasi massa bernama Nasional Demokrat, yang menjadi rumah baru Surya Paloh setelah kalah dalam Munas Partai Golkar di Riau, 2009. Meski saat itu Paloh belum benar-benar keluar dari Partai Golkar, bayangan bahwa ormas ini bakal menjadi sebuah partai baru bukannya tak ada.
Pilihan video kelompok ini pada program dokumenter perjalanan. Asyik, meskipun tentu masih ada kekurangan.
Mereka memberi judul petualangan ini “Bro Traveller”. Sekelompok anak muda, yang mencoba menaklukkan Gunung Gede dalam sebuah perjalanan tak terlupakan.
Raki Ahmad, FauzanAzis, Muhammad Annas, Jordan Haekal, Adindityo Putra, Ryan Rizal, Jeane Felicia, Ebryan Ardi, Fajar Jufri, Muhamamad Iqbal, Romli Permana, dan Ismail Juliansyah, bahu-membahu mewujudkan kenanganini: kebersamaan bersejarah sekaligus proyek tugas akhir mata kuliah Editing & Pasca Produksi Televisi.
Ini juga kemasan program game show. Dari Taman Mini Indonesia Indah mereka mengemas kisah…
Juduln permaianan mereka ‘Cari Harta’. Mengambil setting lokasi di Taman Burung Taman Mini Indonesia, enam orang dalam kelompok Editing dan Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini mencoba mengemas permainan outdoor bernuansa lain. Riza ‘Anggi’ Annisa, Michael, Frederick, Stefanny Nadhia, Mona Kuntara, dan Tio Jerry menampilkan karya mereka dengan ekselen.
Permainan ini dibagi dalam tiga sesi. Babak pertama, dua tim, kelompok Merah dan Orange –masing-masing berisi dua orang harus memotret burung sesuai dengan nama yang ditentukan.
Ini perjalanan mengeksplorasi tiga tempat di ibukota, yang kebanyakan orang belum mengenalnya.
Tema kelompok ini juga mengenai perjalanan seputar Jakarta. Hanya saja, obyek yang dipilih benar-benar berbeda dengan kebanyakan. Ada tiga museum, dua di antaranya mungkin belum pernah hadir di telinga anda: Museum Art Mon Décor, di kawan Kemayoran, dan Museum Tengah Kebun di Kemang. Satu lagi, mereka memilih mennguliti habis Museum Bahari di Jakarta Utara.
Tentu, bukan tanpa alasan Nabilah Rahmagitha, Sri Gemi Nastiti, Maria Meiditama, Monika Dhita, Erwanto Khusuma, Dita Anggreani, Serenata Rosalia, Engelberta, Hanny Prista, dan Yolanda Tanu memilih tiga obyek istimewa ini.
Kelompok ini mencoba memutar waktu, mengajak kita menuju Jakarta tempo doeloe.
“Laju melaju, menerpa angin di jalan raya
Riung-meriung kebut janganlah terpengaruh
Tahan emosi meluncur pelan tapi pasti
Jangan lupa sim dan STNK
Hati-hati ada razia
Keliling putar bundaran Hotel Indonesia
Tarik gas ke arah Monas, menuju ke arah Kota
Putar balik di Harmoni ke Kebon Jeruk Tiga
Lalu mampir Ragusa…”
Iringan lagu ‘Pelan Tapi Pasti’ ini menjadi pengiring yang pas bagi salah satu karya tugas akhir mata kuliah Editing & Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Dikerjakan bersembilan oleh Stephanie Ellen, Linda, Oriza Cintya, Feliana Lamjaya, Martina Andriani, Saraswati Putri, Triani Hanifa, Natasha Sinsoe, dan Nadia Latief.
Ini juga game show, tapi “menjual” sisi duo kembar sebagai lakonnya.
Menarik pula menyaksikan karya mahasiswa mata kuliah Editing dan Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) kali ini. Mengambil lokasi di Citra Raya World of Wonders Cikupa, Tangerang, sepuluh orang dalam kelompok ini beraksi dengan menonjolkan penampilan si kembar, Clarine Amadea dan Clara Amalia.
Selain kembar perempuan tadi, anggota lain dalam kelompok ini yakni duo host Jaclyn Esther dan Bianca Noor Dayanti, Radia Milati, Ashlihatul Latifah, Nindyta Devianty, Elisabeth Novina, Fakhrana, dan Andrei Sulaiman.
Ini karya mahasiswa yang mencoba tampil lain mengemas “game show”.
Banyak opsi terbentang di depan setiap kelompok, saat saya menugaskan mahasiswa Editing dan Pasca Produksi Televisi membuat tugas Ujian Akhir Semester Ganjil 2013/2014. Mereka bebas membuat show dalam program ber-genre apa saja, untuk masa tayang kotor 30 menit.
Pilihan Cempaka Riliani, Eisha Arifah, Nadine Arinindya, Nandyati Utami, Mayang Sekar, Niza Sari Pratiwi, Johan Franklin, Fransisco Carolio berbeda dari yang lain. Mereka memutuskan membuat “game show”, yang diberi tajuk ‘Outbond Fiesta’. Lokasinya diambil di kawasan Situ Gintung, obyek wisata alami yang kini kembali bangkit di Ciputat, setelah mendapat musibah besar pada 2009 silam.
Banyak ide liar dari mahasiswa jika pikiran mereka dibebaskan. Ini kisah bagaimana mereka membedah obyek wisata dan kuliner di Jakarta.
Saya sengaja membebaskan mahasiswa untuk mengambil topik apa saja, dalam pembuatan program video berdurasi tayang 30 menit, sebagai tugas akhir mata kuliah Editing dan Pasca Produksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Jadilah, ada yang memilih genre dokumenter sejarah bergaya nge-pop, membuat game show, atau cerita perjalanan.
Ini video menarik, mereka beri judul “Bedah Jakarta”. Kisahnya, terpusat pada kedua orang, satu dari Jawa, dan satu orang Jakarte, yang mengeksplorasi ibukota dalam berbagai sisi. Digarap apik bersepuluh oleh Zerica Estefania, Georgene Surhani, Maria Advenita, Feronica Christiani, Cansa Abinta, Garry Nahumury, Aloysius Primasyah, Krisma Hutama, Fanly Edah, dan Yohanes Bosco.