Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020
Anak-anak ikut kampanye, kerap jadi topik seksi liputan kampanye.
Partai Gerakan Indonesia Raya alias Gerindra menuai sukses besar pada kampanye akbarnya di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Maret lalu. Tanda-tanda partai ini akan meraup suara banyak juga terlihat, meski mungkin tak sampai diperkirakan bisa tembus tiga besar, termasuk mengalahkan sang juara bertahan.
Bermodal maksimal, hasil yang diraih partai Hanura justru minimal. Tak ada surprise berarti dalam perolehan suara pemilu legislatif. Begitupula liputan kampanye ini. Seharusnya bisa menampilkan unsur “kejutan”.
Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) memiliki modal lebih dari cukup untuk sekadar melewati ambang batas parlemen 3,5 persen. Apalagi masuknya konglomerat sekaligus mogul media Hary Tanoesoedibjo ke partai bernomor sepuluh ini pada Februari 2013 menjadi suntikan kekuatan berarti. Ya finansial, ya pengaruh publik lewat kekuatan media. Berselang lima bulan, Hary Tanoe yang baru saja lompat dari Partai Nasdem pun didapuk menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Hanura. Pada bulan Juli tahun lalu juga, pasangan Wiranto-Hary Tanoe dideklarasikan sebagai duet capres-cawapres dari partai ini. Hanura menjadi partai peserta pemilu satu-satunya, yang mengusung paket pemimpin eksekutif pada pemilu legislatif 9 April.
Menjadi tiga besar pemenang pemilu versi hitung cepat, tak salah Partai Gerindra pasang sikap “keep calm and smiling”.
Di antara spanduk yang ada di Stadion Utama Gelora Bung Karno saat kampanye Partai Gerakan Indonesia Raya Maret lalu, sebuah kain rentang tampil berbeda. “Tetap Tenang Tetap Senyum, Gerindra Pasti Meanng”, begitu tulisan yang menjadi latar Danielisa Putriadita saat stand-up di sela-sela orasi Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto.
CHELSEA SUKSES MENGAMBIL ALIH PUCUK PIMPINAN KLASEMEN LIGA INGGRIS PEKAN KE TIGA PULUH TIGA/ MESKI HANYA SEHARI SEMALAM//
BERMAIN DI KANDANG SENDIRI/ STAMFORD BRIDGE LONDON/ MOHAMED SALAH DAN KAWAN KAWAN / BANGKIT DARI LUKA MENYAKITKAN/ SAAT DITEBAS CRYSTAL PALACE/ SEPAKAN SEBELUMNYA//
Galau. Satu kata itu yang tepat untuk mendeskripsikan suasana hati partai banteng moncong putih. Perolehan suara tak sesuai proyeksi jadi masalahnya.
Target PDI-P menang tebal bersama Joko Widodo sebagai calon presiden urung terlaksana. Tertatih-tatih menyentuh 20 persen perolehan suara nasional, membuat PDI Perjuangan harus berpikir keras lagi untuk pencalonan capres, siapa koalisi yang digandeng, dan siapa calon wakil presidennya. Jum’at (11/4) malam, usai pertemuan mendadak dengan Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri, Jokowi menyatakan, pihaknya telah menginventarisir, setidaknya ada nama lima calon wakil presiden.
Sejak awal, partai ini tak terlalu ngotot menjagokan ikonnya sebagai calon presiden. Siapa sangka, kini Nasdem menjadi penentu bisa tidaknya PDI-P maju ke kontestasi pemilihan presiden.
Sejarah Nasdem diawali dari dibentuknya organisasi massa bernama Nasional Demokrat, yang menjadi rumah baru Surya Paloh setelah kalah dalam Munas Partai Golkar di Riau, 2009. Meski saat itu Paloh belum benar-benar keluar dari Partai Golkar, bayangan bahwa ormas ini bakal menjadi sebuah partai baru bukannya tak ada.
Svaradiva Anurdea Devi meliput kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan mewawancarai ‘wong cilik’ yang ada di sana.
Tugas liputan stand-up kampanye mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang ini lebih keren. Masih mengambil lokasi rapat akbar Partai Gerakan Indonesia Raya di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Diva mengambil sisi lain di sana.
Yehezkiel Filemon Septano memotret meriahnya kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Pemilu legislatif sudah lewat. Perolehan suara via hitung cepat pun sudah kita ketahui, meski resminya data akhir baru bisa diketahui sebulan pasca Hari ‘H’ pencoblosan. Namun, dari quick count beberapa lembaga, hasilnya relatif sama. Yang patut dicatat, Partai Gerindra mencatat fenomena tersendiri, masuk 3 besar, melewati sang petahana Partai Demokrat. Dengan prediksi suara tembus persen, pencapaian ini jauh melampaui perolehan saat debut pemilu 5 tahun silam, yang ‘hanya’ meraup 4,4 persen suara nasional atau setara 26 kursi DPR.
Salah satu pendongkrak suara Gerindra bisa jadi dari rapat akbar di GBK Senayan, 23 Maret silam. Saat itu, ribuan kader partai berlogo kepala garuda ini meluberi stadion bersejarah yang dibangun untuk menyamput Asian Games 1962. Ikon partai, Prabowo Subianto, tampil eksentrik dengan turun dari helikopter, naik, jip dan menunggang kuda.
Ini propaganda keren memerangi angka golput, yang terus meningkat dari pemilu ke pemilu.
Video ini dibuka dengan paparan fakta betapa jumlah angka golongan putih, alias mereka yang memilih untuk tidak memilih, meroket tajam. Dari 10,2 persen pada Pemilu 1999, lalu menjadi “pemenang” Pemilu 2009 dengan 39,1 persen suara.