Kuliner Surabaya: Masgo, Soto Cak Pardi

Kunjungan ke Surabaya kali ini, mencicipi beberapa lokasi kuliner. Ada yang sudah pernah ditulis di sini, ada yang baru sama sekali.

Libur Natal tak terduga ke Surabaya. Beberapa lokasi makan selama di Surabaya sebagian pernah saya tulis di sini, seperti ‘Lontong Balap Cak Gendut Embong Malang’, dan ‘Soto Cak Choirul’ Sedati Juanda.

Ada juga tempat nongkrong baru. Seperti kemarin menulis ‘Warkop Pitulikur’. Kali ini, cerita tentang ‘Masgo’. Ini cerita tentang makanan haram di kawasan Kedungdoro-Pasar Kembang. Bermula ketika warung bakso babi legendaris di Jl. Polisi Istimewa depan SMA St. Louis tutup. Kawan baik saya, Bintang Arko, membelokkan motornya ke ‘Masgo’.

Masgo Siokee dan Siobak benar-benar ‘must go’. Tak hanya aneka babi dalam banyak versi, ada juga gromoan alias lemak babi yang digoreng. Pelayanannya cepat, tak lama. Harga pun setimpal dengan kualitas.

Seorang ibu yang memperhatikan kebingungan saya melihat menu, mencoba menjelaskan. “Jadi beda siokee dan siobak itu begini,” kata ibu yang juga tengah memesan makanan itu.

Mampirlah ke Surabaya. Juara benar makan nasi campur di sini!

Soto Cak Pardi

Tempat ini tidak saya kunjungi. Tapi saya mampir, menjemput teman di pagi hari. Saya masih sukses menahan tidak sarapan sesuai komitmen intermittent fasting. Lokasinya persis depan Hotel Sheraton, Embong Malang.

Salah satu faktor kenapa saya cukup kuat tidak membatalkan puasa dengan makan pagi soto ayam nan menggiurkan, antara lain karena antreannya amat panjang. Namun, bukankah restoran atau warung makan yang enak adalah yang paling ramai pengunjungnya?

Leave a Reply

Your email address will not be published.