Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020
Kisah video memotret kota Tangerang. Tidak sebiasa yang kita lewati sehari-hari.
Untuk pengerjaan Ujian Tengah Semester, kelompok yang beranggotakan Noviana, Aprilia Josephine, Sofi Chandra, Meivi Isnihijah, Anggie Cyndia, Eunike Iona Saptanti, Nesya, Amelita Risa Oktora, Devy Agita, dan Melisa Mulyasari memilih memotret kota Tangerang.
Kekhasan video ini: menampilkan tokoh lokal, berprestasi global.
Wow, itu yang terucap saat melihat tokoh-tokoh dalam video ini. Keren, dan tak percaya karena semua orang beken ini kuat secara proximity, semua ada di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Griselda ‘Gritte’ Agatha, artis layar kaca sejak usia dini, yang mahasiswi Desain Komunikasi Visual UMN, serta enterpreuner sukses di bidang merchand, seperti kaos, tas, gantungan kunci, pin, dan lain-lain.
Sebagai sebuah tugas Ujian Tengah Semester, project bertajuk ‘Rooftalk’ ini bisa dibilang excellent. Tapi, tak ada karya yang sempurna.
Sebelas mahasiswa semester V mata kuliah Editing dan Pascaproduksi Televisi Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ini punya ide kreatif untuk membuat sebuah project talk show.
Jurnalis dituntut akurat dalam berbagai hal. Termasuk yang menyangkut penyebutan lokasi sebuah peristiwa.
Jason terpeleset di kalimat pertamanya. “Selamat Siang, Saudara, saya Jason Leonardo melaporkan dari Bundaran HI, Jakarta Barat”. Bundaran Hotel Indonesia, yang sering disebut sebagai titik nolnya ibukota, berada di Jakarta Pusat dan bukan Jakarta Barat. Ia keliru dalam penyebutan keterangan lokasi, dan sangat fatal bagi orang yang tahu di mana lokasi tersebut, serta ‘menyesatkan’ bagi orang yang tak paham peta Jakarta. Untuk netral, sebenarnya cukuplah Jason menyebut ‘Bundaran HI, Jakarta’.
Wawancara ke narasumber bukan hanya asal wajah nongol dan terekam recorder, tapi juga menampilkan kualitas pertanyaan yang bagus.
Ignatius Fajar Santoso on-cam di tengah kerumunan buruh di Bundaran Hotel Indonesia. Di antara reog dan para pekerja yang berkeluh, ia muncul dengan penuh semangat.
Merekam peristiwa nyata yang didokumentasikan dengan baik, melalui proses pascaproduksi yang ekselen, merupaka sebuah pengalaman berharga. Karena peristiwa tak bisa diulang. Inilah awal menjadi pembuat film dokumenter. Berangkat dari sebuah ‘sejarah’.
Gavrilla Gertruida memberi sensasi khusus pada paket berita liputan May Day yang dibuatnya. Suara musik nan menghentak –meski pada beberapa kesempatan terdengar terlalu kenceng dan mendominiasi- menjadi kekuatan tersendiri pada paket liputannya.
Selain masalah kesetaraan narasumber, kritik terhadap reportase Ricky Halim ada pada live reportnya yang tertelan audio pengunjukrasa.
Dalam jurnalistik, posisi narasumber dan koresponden harus sejajar. Tak elok bila reporter menyebut narasumbernya dengan atribusi yang mengesankan narasumber lebih tua atau terhormat. Karena bagaimanapun, pemirsa televisi beragam posisinya. Ada pula, mungkin, pemirsa yang usianya lebih tua dari narasumber tengah menyaksikan tayangan itu. Jadi, tak perlu menyapa dengan sebutan bapak.
Liputan Aliefia kaya visual. Beberapa catatan menjadi masukan. Selain soal istilah, juga kurang greget tanpa wawancara.
Hampir tiga menit show diiringi bumper dan musik pengiring BBC News, paket liputan Aliefia Nada Malik awalnya tampak menggigit. Tapi, apakah benar dibilang berlebihan jika headlinenya dianggap terlalu lebay, dengan memberi judul ‘Huru-Hara May Day 2014’, ‘Jakarta Mampet Akibat Demo Buruh’?
Tesya Claudia Ariesta menampilkan liputan bernuansa semangat tinggi. Beraksi di depan motor-motor pengunjuk rasa –meski gambar latarnya kabur dan tak jelas, Tesya tampak sangat antusias. Tak ubahnya saat ia meliput kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang juga penuh energy.