http://www.youtube.com/watch?v=eOkIyzJEAuk
– dan Kira pun nongol menemani Einzel…
17 Mei 2015, Paroki Santa Bernadet Ciledug Gereja Metro Permata
"the future belongs to those who believe in the beauty of their dreams, masa depan adalah milik mereka yang percaya kepada keindahan mimpi-mimpinya.."
http://www.youtube.com/watch?v=eOkIyzJEAuk
– dan Kira pun nongol menemani Einzel…
17 Mei 2015, Paroki Santa Bernadet Ciledug Gereja Metro Permata
* dimodifikasi dari repost tulisan 30 Januari 2014
Hari ini, Papa semestinya berulangtahun ke-60. Tahun lalu, Papa mengakhiri pertandingan dengan baik, mencapai garis akhir, dan telah memelihara iman. Papa mengajarkan banyak hal: loyalitas, ketekunan, dan kepasrahan pada Sang Kuasa.
Hari ini, Facebook mengingatkan daftar ‘teman’ yang berulangtahun: 27 Februari 2015. Salah satunya, Papa. Pak Sugeng, ayah tercinta saya, kelahiran Magetan, Jawa Timur, pada 1955. Setahun lalu, tepat sebulan sebelum hari jadinya ke-59, Papa meninggalkan dunia yang fana ini.
Papa menyelesaikan perjuangannya, setelah dirawat intensif tak sampai 2 x 24 jam di Rumah Sakit Bakti Dharma Husada dan RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Penyakit gula alias kencing manis yang kian mengganas, membuat beberapa kondisi bagian tubuh luar dan dalam Papa memburuk.
Hari ini memperingati 8 tahun usia pernikahan dengan @agriceli. Bukan waktu yg pendek, tapi belum juga terlalu panjang #SewinduBersamamu
Menikah itu ibarat bermain flying fox. Keraguan lebih besar terbayang sebelum memulainya. Jalani saja, berdoa, nikmati.. #SewinduBersamamu
Di flying fox, kita diyakinkan oleh instruktur, semua akan baik2 saja. Dalam menikah, libatkan pihak ke-3: Gusti Allah #SewinduBersamamu
[youtube=http://youtu.be/IsmTMnR_Wkw]
Continue reading “Menikah itu Ibarat Flying Fox… #SewinduBersamamu”
(VISUAL KLATEN WISATA AIR)
== AMBIL VISUAL MAIN AIR YANG SERU==
BERMAIN AIR/ BERSAMA TEMAN-TEMAN//
SEMUA ANAK PASTI SUKA AKTIVITAS YANG SATU INI//
ITU PULA YANG MEMBUAT/ WISATA TAMAN AIR DI DESA JANTI KLATEN/JAWA TENGAH/ DISERBU PENGUNJUNG BERSAMA KELUARGA MEREKA//
Persiapan Papa sebelum berangkat. Rias jenazah.
Thank’s to Jack Robby untuk videonya…
http://www.youtube.com/watch?v=_gVp8_c1dWQ
Papa mengajarkan banyak hal: loyalitas, ketekunan, dan kepasrahan pada Sang Kuasa.
Tiga hari sudah, Papa meninggalkan dunia yang fana ini. Senin, 27 Januari 2014, pukul 11.20 WIB tepat sebulan jelang ulang tahun ke-59, Papa menyelesaikan perjuangannya, setelah dirawat intensif tak sampai 2 x 24 jam di Rumah Sakit Bakti Dharma Husada dan RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Penyakit gula alias kencing manis yang kian mengganas, membuat beberapa kondisi bagian tubuh luar dan dalam Papa memburuk.
Dari luar, selesai mengakhiri perang dengan abses di punggung, dioperasi akhir November lalu, kondisi ibu jari dan telapak kaki kanan menunjukkan luka amat serius. Dari dalam, indikator-indikator kesehatan jauh dari normal: kadar gula melewati angka 500 mg/dl (normalnya di bawah 200), begitupula angka keton darah, leukosit, trombosit, eritrosit, hematocrit, dan beberapa parameter lain, ada di luar rentang normal.
Studio Sinten Yogyakarta pintar mencari peluang bagaimana mengabadikan kenangan dengan cara berbeda.
Awalnya, kami melihat dari luar. Jalan raya menuju Tugu, ikon kota Yogyakarta. Sekilas, studio itu nampak unik. Tak sekadar menawarkan sebagai sarana berpose dalam grup, keluarga misalnya. Tapi juga melengkapi diri dengan busana tradisional (wardrobe) dan juga latar belakang (backdrop) bernuansa kuno. Tak salah, Sinten yang berlokasi di Jl Diponegoro, depan Pasar Kranggan, Yogyakarta itu memilih tagline ‘studio foto jang bernoeansa tradisionil Djogja tempo doeloe’.
Pemilik sekaligus fotografer Sinten, Toni Handoko, bercerita, berbagai item barang di Sinten sebagian merupakan koleksi keluarganya. Misalnya, radio tua, rokok jadul, lukisan, topeng, dan juga sangkar burung. “Tapi, barang-barang lain ada yang harus saya hunting ke berbagai tempat,” kata Toni. Ia merujuk pada pintu, jendela, dan berbagai interior lain.
Raport memang bukan semata nilai, tapi setidaknya, sesuai arti katanya, itulah laporan.
Pagi tadi, lelaki dengan rambut bak supit udang itu, terjadwal menerima raport. Kelas 1 SD, tapi saya rasa, cukup berat juga materi pelajaraannya. Setidaknya, dibandingkan zamanku dulu.
Cobalah Anda bayangkan itu. Seperti pernah saya tulis di sini. Untuk pelajaran Bahasa Inggris, saya merasa pelajaran yang didapat Einzel baru saya dapat di level SMP dulu Mulai dari cara menyebut identitas diri, sampai bagaimana menyebut silsilah keluarga, mengenal father, brother, sister, grandmother, dll. Juga mengingat nama-nama mainan yang tak pernah saya bahami apa Bahasa Inggrisnya: ayunan sebagai swing, jungkat-jungkit disebut she saw, atau panjatan besi diingriskan monkey bars.
Apakah belajar bahasa asing bagi anak usia 6 tahun dinilai terlalu membebani?
Coba ingat-ingat, usia berapa anda kali pertama akrab dengan Bahasa Inggris secara serius? Bukan hanya karena kebetulan mendengar lewat film atau lagu dengan bahasa asing kedua yang paling banyak digunakan di dunia itu –setelah bahasa Mandarin, tapi benar-benar menghapal setiap perbendaharaan kata, belajar mengucapkan salam, dan lain-lain.
Saya terkenang, menjadi intim dengan Bahasa Inggris baru saat kelas 6 SD. Saat itu, Bahasa Inggris belum diajarkan di jenjang sekolah dasar. Seorang perempuan yang berbaik hati, kawan dari orangtua kawan saya, menjadi pahlawan masa kecil, karena memberikan kursus Bahasa Inggris secara gratis. Awalnya, lebih kepada pengenalan nama benda secara sederhana, sampai kami mencoba berani bicara in English.