Persiapan Papa sebelum berangkat. Rias jenazah.
Thank’s to Jack Robby untuk videonya…
http://www.youtube.com/watch?v=_gVp8_c1dWQ

"the future belongs to those who believe in the beauty of their dreams, masa depan adalah milik mereka yang percaya kepada keindahan mimpi-mimpinya.."
Persiapan Papa sebelum berangkat. Rias jenazah.
Thank’s to Jack Robby untuk videonya…
http://www.youtube.com/watch?v=_gVp8_c1dWQ
Papa mengajarkan banyak hal: loyalitas, ketekunan, dan kepasrahan pada Sang Kuasa.

Tiga hari sudah, Papa meninggalkan dunia yang fana ini. Senin, 27 Januari 2014, pukul 11.20 WIB tepat sebulan jelang ulang tahun ke-59, Papa menyelesaikan perjuangannya, setelah dirawat intensif tak sampai 2 x 24 jam di Rumah Sakit Bakti Dharma Husada dan RSUD Dr Soetomo, Surabaya. Penyakit gula alias kencing manis yang kian mengganas, membuat beberapa kondisi bagian tubuh luar dan dalam Papa memburuk.
Dari luar, selesai mengakhiri perang dengan abses di punggung, dioperasi akhir November lalu, kondisi ibu jari dan telapak kaki kanan menunjukkan luka amat serius. Dari dalam, indikator-indikator kesehatan jauh dari normal: kadar gula melewati angka 500 mg/dl (normalnya di bawah 200), begitupula angka keton darah, leukosit, trombosit, eritrosit, hematocrit, dan beberapa parameter lain, ada di luar rentang normal.
Studio Sinten Yogyakarta pintar mencari peluang bagaimana mengabadikan kenangan dengan cara berbeda.

Awalnya, kami melihat dari luar. Jalan raya menuju Tugu, ikon kota Yogyakarta. Sekilas, studio itu nampak unik. Tak sekadar menawarkan sebagai sarana berpose dalam grup, keluarga misalnya. Tapi juga melengkapi diri dengan busana tradisional (wardrobe) dan juga latar belakang (backdrop) bernuansa kuno. Tak salah, Sinten yang berlokasi di Jl Diponegoro, depan Pasar Kranggan, Yogyakarta itu memilih tagline ‘studio foto jang bernoeansa tradisionil Djogja tempo doeloe’.
Pemilik sekaligus fotografer Sinten, Toni Handoko, bercerita, berbagai item barang di Sinten sebagian merupakan koleksi keluarganya. Misalnya, radio tua, rokok jadul, lukisan, topeng, dan juga sangkar burung. “Tapi, barang-barang lain ada yang harus saya hunting ke berbagai tempat,” kata Toni. Ia merujuk pada pintu, jendela, dan berbagai interior lain.
Raport memang bukan semata nilai, tapi setidaknya, sesuai arti katanya, itulah laporan.

Pagi tadi, lelaki dengan rambut bak supit udang itu, terjadwal menerima raport. Kelas 1 SD, tapi saya rasa, cukup berat juga materi pelajaraannya. Setidaknya, dibandingkan zamanku dulu.
Cobalah Anda bayangkan itu. Seperti pernah saya tulis di sini. Untuk pelajaran Bahasa Inggris, saya merasa pelajaran yang didapat Einzel baru saya dapat di level SMP dulu Mulai dari cara menyebut identitas diri, sampai bagaimana menyebut silsilah keluarga, mengenal father, brother, sister, grandmother, dll. Juga mengingat nama-nama mainan yang tak pernah saya bahami apa Bahasa Inggrisnya: ayunan sebagai swing, jungkat-jungkit disebut she saw, atau panjatan besi diingriskan monkey bars.
Apakah belajar bahasa asing bagi anak usia 6 tahun dinilai terlalu membebani?

Coba ingat-ingat, usia berapa anda kali pertama akrab dengan Bahasa Inggris secara serius? Bukan hanya karena kebetulan mendengar lewat film atau lagu dengan bahasa asing kedua yang paling banyak digunakan di dunia itu –setelah bahasa Mandarin, tapi benar-benar menghapal setiap perbendaharaan kata, belajar mengucapkan salam, dan lain-lain.
Saya terkenang, menjadi intim dengan Bahasa Inggris baru saat kelas 6 SD. Saat itu, Bahasa Inggris belum diajarkan di jenjang sekolah dasar. Seorang perempuan yang berbaik hati, kawan dari orangtua kawan saya, menjadi pahlawan masa kecil, karena memberikan kursus Bahasa Inggris secara gratis. Awalnya, lebih kepada pengenalan nama benda secara sederhana, sampai kami mencoba berani bicara in English.
Bermain monopoli, belajar menjadi investor

Ingatkah Anda pada permainan “Monopoli Gaya Baru” era 1980-an? Zaman kita masih duduk di bangku SD atau SMP, mungkin. Dari lembar karton monopoli itulah, saya mengenal nama kota Indonesia seperti Bogor, Bandung, Denpasar, Garut, atau Singaraja.
Juga dari permainan itu, jadi akrab dengan banyak stasiun kereta api, seperti Gambir dan Pasar Senen Jakarta, atau Tawang Semarang. Tentu saja, saat masih bersekolah dasar di Surabaya, saya tak pernah bermimpi bakal menginjakkan kaki beneran di tempat-tempat itu, beberapa belas tahun kemudian.
SLUG: PENYANDANG CELAH BIBIR LANGIT
REP/CAM: HAPPY/IYOS
SOURCE: SDHC 031 + NX 07 (semua sot)
FORMAT: PKG
(LEAD)
MEMPUNYAI ANAK YANG TERLAHIR SEMPURNA ADALAH IMPIAN SETIAP ORANG TUA//NAMUN BAGAIMANA JIKA SI BUAH HATI/TERLAHIR MENGIDAP CELAH BIBIR LANGIT SEJAK LAHIR//
INILAH YANG MENCETUS LAHIRNYA KOMUNITAS SATU SENYUM//MENDUKUNG PENUH ANAK ANAK PENYANDANG C-B-L/TERMASUK MENDUKUNG KELUARGA//
Komunitas Satu Senyum dideklarasikan. Bersama saling menguatkan.
Minggu (3/11) kemarin, bahagia rasanya bisa ikut hadir dalam peresmian komunitas “Satu Senyum”, di auditorium Museum Bank Mandiri, kawasan Kota Tua, Jakarta. Ini adalah wadah bagi keluarga dengan anak yang lahir dengan celah bibir dan langit-langit (CBL). Kondisi kelainan bawaan seperti ini, tak pernah jelas apa yang menjadi penyebabnya, apakah masalah dari dalam –misalnya kurangnya asupan gizi, atau kondisi mental orangtua saat mengandung, atau faktor dari luar –polusi maupun kandungan makanan yang masuk ke ibu hamil. Tak bisa dimungkiri, ada perasaan bagi orangtua kala pertama tahu kondisi “istimewa” pada anaknya.
Video potret keluarga perkotaan selalu repot tanpa asisten rumah tangga.
http://vod.kompas.com/read/2012/08/26/215313/Repot.Ketika.PRT.Mudik

Tradisi ke makam saat hari raya, bagaimana memandangnya?
Baru-baru ini, salah satu grup di telepon pintar saya marak dengan diskusi bertema, “Apa sih perlunya pergi ke makam saat mudik?” Beberapa kawan berkomentar dengan menulis, tradisi berziarah ke makam leluhur tak terlalu signifikan, karena pada dasarnya toh roh dan jiwa mendiang orang yang kita kunjungi sudah tak di situ. Bagaimana opini Anda tentang itu?