Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020
Liputan Alexander Blegur, reporter Kompas TV Bekasi Liverpool v Aston Villa, tayang di Soccerzone, Kompas TV, 17 September
(LEAD)
LIVERPOOL HARUS MENELAN PIL PAHIT/ SETELAH DI KALAHKAN OLEH ASTON VILLA 1-0 DI KANDANGNYA SENDIRI ANFIELD STADIUM// WALAUPUN DI PERKUAT OLEH STRIKER BARU MARIO BALOTELLI NAMUN/ LIVERPOLL HARUS KEBOBOLAN DI MENIT 8 MELALUI PEMAIN ASTON VILL BERNOMOR PUNGGUNG 11/ AGBONLAHOR//
Liputan Michael Aryawan, reporter Kompas TV Yogyakarta, Chelsea v Swasnea City, tayang di Soccerzone, Kompas TV, 16 September
NONTON BARENG CHELSEA KONTRA SWANSEA CITY DI WARUNG TONK/ NOLOGATEN/ SLEMAN/ YOGYAKARTA/ TERASA ISTIMEWA BAGI PARA FANS CHELSEA// SEMPAT TERTINGGAL 0-1/ THE BLUES YANG BERHASIL MEMBALIKKAN KEADAAN/ DAN MENANG DENGAN SKOR 4-2/ MENUAI SORAK SORAI PARA SUPORTERNYA//
Wawancara ke narasumber bukan hanya asal wajah nongol dan terekam recorder, tapi juga menampilkan kualitas pertanyaan yang bagus.
Ignatius Fajar Santoso on-cam di tengah kerumunan buruh di Bundaran Hotel Indonesia. Di antara reog dan para pekerja yang berkeluh, ia muncul dengan penuh semangat.
Merekam peristiwa nyata yang didokumentasikan dengan baik, melalui proses pascaproduksi yang ekselen, merupaka sebuah pengalaman berharga. Karena peristiwa tak bisa diulang. Inilah awal menjadi pembuat film dokumenter. Berangkat dari sebuah ‘sejarah’.
Gavrilla Gertruida memberi sensasi khusus pada paket berita liputan May Day yang dibuatnya. Suara musik nan menghentak –meski pada beberapa kesempatan terdengar terlalu kenceng dan mendominiasi- menjadi kekuatan tersendiri pada paket liputannya.
Selain masalah kesetaraan narasumber, kritik terhadap reportase Ricky Halim ada pada live reportnya yang tertelan audio pengunjukrasa.
Dalam jurnalistik, posisi narasumber dan koresponden harus sejajar. Tak elok bila reporter menyebut narasumbernya dengan atribusi yang mengesankan narasumber lebih tua atau terhormat. Karena bagaimanapun, pemirsa televisi beragam posisinya. Ada pula, mungkin, pemirsa yang usianya lebih tua dari narasumber tengah menyaksikan tayangan itu. Jadi, tak perlu menyapa dengan sebutan bapak.
Ahmad Taufik bukan nama asing di dunia jurnalisme. Menginginkan Indonesia lebih baik dalam pemberantasan korupsi, ia memberanikan diri menuju kursi komisioner KPK.
Dukungan Ahmad Taufik sebagai komisioner KPK. Respek dari banyak elemen.
Sebuah konferensi pers digelar pada Kamis (18/9) siang. Tempatnya tak mewah. Di Wisma Mas Isman, kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Digelar oleh Koalisi Publik untuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KAP KPK), acara ini bertemakan ‘Mengembalikan Marwah KPK sebagai Oksigen Demokrasi’. Kesan sederhana tampak dari hidangan yang disajikan: ketela, jagung, dan kacang rebus, berteman teh serta kopi hangat.
Acara yang digagas beberapa elemen ini mendeklarasikan dukungan kepada Ahmad Taufik yang tengah maju sebagai calon komisioner KPK pengganti Busjro Muqoddas. “Ahmad Taufik adalah orang yang tepat dan mampu dalam mewakafkan jiwa dan raganya untuk mengawal KPK,” begitu suara resmi KAP KPK.
Liputan Aliefia kaya visual. Beberapa catatan menjadi masukan. Selain soal istilah, juga kurang greget tanpa wawancara.
Hampir tiga menit show diiringi bumper dan musik pengiring BBC News, paket liputan Aliefia Nada Malik awalnya tampak menggigit. Tapi, apakah benar dibilang berlebihan jika headlinenya dianggap terlalu lebay, dengan memberi judul ‘Huru-Hara May Day 2014’, ‘Jakarta Mampet Akibat Demo Buruh’?
Tesya Claudia Ariesta menampilkan liputan bernuansa semangat tinggi. Beraksi di depan motor-motor pengunjuk rasa –meski gambar latarnya kabur dan tak jelas, Tesya tampak sangat antusias. Tak ubahnya saat ia meliput kampanye Partai Gerindra di Stadion Utama Gelora Bung Karno, yang juga penuh energy.