Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020
Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki mengapresiasi berbagai hal positif yang terjadi di Persebaya. Pernyataan itu disampaikan Teten saat menerima Presiden Persebaya, Azrul Ananda, di Bina Graha, Rabu, 6 September 2017.
MEMBUAT RAKYAT GEMBIRA. Dalam jadwal futsal kami di lapangan Monas yang gratis tiap Selasa dan Kamis, banyak kali kecewa melanda. Maghrib telah usai, tapi lampu penerang lapangan tak kunjung dinyalakan. Begitu pula kondisi gawang yang jaringnya tercabik-cabik dan sebagian besar bahkan melompong tanpa jala. Jadi sulit menjelaskan, apakah sebuah gol itu sahih atau tidak.
“Kami sebagai bagian dari suporter klub sepakbola Indonesia sepakat untuk menunjukkan loyalitas pada klub masing-masing dan menghormati pertandingan dengan tidak menunjukkan sikap permusuhan pada kelompok suporter yang lain dan masyarakat pada umumnya.”
Ikrar itu terpampang dalam papan tulis putih yang ditandatangani para perwakilan suporter dari berbagai daerah di Indonesia. Digelar dengan persiapan mepet bak fragmen ‘Bandung Bondowoso’, gelaran ‘Jumpa Suporter Sepakbola Indonesia bersama Menpora Imam Nahrawi’ berlangsung sukses di Wisma Kemenpora, Jakarta, Kamis, 3 Agustus 2017.
Sebuah pengalaman kecut nan traumatik saya alami akhir pekan lalu: nyaris ditelanjangi di di kawasan tempat saya tinggal!
Sabtu, 18 November 2006, pukul 21.00 WIB, saat berjalan kaki kembali masuk ke dalam gang menuju rumah, setelah mengantarkan seorang sahabat mencari taksi, seorang pemuda memepetku ke tembok gang.“Hei, kamu tinggal di mana?” ia bertanya.
Dalam paket berita ini, ‘jualan’ mereka tampak pada bagian akhir tayangan. Sayang, seharusnya masalah ‘tantangan kendala bahasa’ dalam kepelatihan coach Luis Milla justru bisa dieksplorasi dari sebuah angle yang dikupas sejak detik-detik awal.
Fairuz Syifa, Erviana Bastian, Frindy Ingkiriwang, Shafira Hestiandari dan Wulan Tasiam bahu-membahu mengerjakan project Ujian Tengah Semester kelas Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara dalam program yang mereka namakan Jurnal Sport ‘APA TV’.
Sebuah paket jurnalisme televisi memang baiknya fokus mengambil satu contoh figure sebagai personalisasi atau human sample. Liputan timnas dengan angle ‘penonton niat’ ini misalnya.
Mereka datang ke lapangan latihan timnas di Sekolah Pelita Harapan Karawaci tentu dengan berbagai mozaik alias puzzle ide yang bisa dikembangkan. Namun, Aleksandra Ekhe, Tesalonika Dara, David Yezreel, Misha Alya, dan Stefanus Putra mengambil angle spesifik untuk karya Ujian Tengah Semester kelompok mereka di mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara ini.
Angle yang diambil sangat khas, sepatu sebagai aksesoris penting pemain tim nasional sepakbola Indonesia. Perlu lebih luwes sebagai reporter on-cam.
Sudut pandang yang diambil kelompok Stefani Sandika, Septiandi Rusli, Verren Wijaya, dan Deddy Darmanto beda dengan yang lain. Dalam durasi tiga menit, mereka menggarap paket untuk Ujian Tengah Semester Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara dengan angle khas, ‘Seperti apa para pemain timnas menggunakan dan memilih sepatu bola?’
Pesan untuk kelompok ini, banyaklah latihan untuk menjadi reporter on-cam dan pembaca narasi paket berita (dubber/pengisi VO paket). Pengisi suara paket tidak harus orang yang sama dengan stand-uppernya.
Eki Bayu, Bariq Iqbal, Emanuel Yose, Leo Agung, dan Reynaldo Casenda dari kelas Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara meliput latihan Tim Nasional U-22 sebagai prasyarat tugas Ujian Tengah Semester.
Sebagai jurnalis pemula dari mahasiswa semester awal, mahasiswa ini sempat dipandang remeh oleh para jurnalis profesional saat meliput latihan timnas di Karawaci. Pertanyaan mereka dinilai kurang bermutu. Tapi, sebagai reporter, ejekan atau cemooh bukan alasan yang tepat menghalangi langkah maju.
Garapan Nathania Kinanti, Silvia Veronika, Pricilia Indah, Cindy Cornelia, Sarah Elizabet, Utari Rahadi, dalam pemenuhan Ujian Tengah Semester mata kuliah Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara ini menyajikan karya tak kalah istimewa dibandingkan kelompok lainnya.
Ini Piece to Camera (PTC) paling keren dari kerjaan para mahasiswa. Narasinya tertata, suaranya mantap, dan percaya diri hostnya tinggi. Sayang, kok visual kabur? Salah kameranya, editornya, atau youtubenya? Hehehehe…
Dari berbagai paket video mahasiswa Jurnalistik Televisi Universitas Multimedia Nusantara ini, in frame Amanda Puspa paling keren. Bersama Stephanie Florentia, Eveline Marieta, Nabilatul Aulia, dan Yashinta Mulya, lima perempuan ini fokus pada sosok Luis Milla. Lead narasi on-cam nya pun ‘nendang banget’. Simaklah..