Notice: Undefined index: host in /home/jojr5479/public_html/wp-content/plugins/wonderm00ns-simple-facebook-open-graph-tags/public/class-webdados-fb-open-graph-public.php on line 1020
Catatan kenangan dua tahun silam, ketika rasa sepi melanda di negeri antah-berantah.
Jalan-jalan keliling tempat-tempat baru. Salah satu tip mengatasi sindrom homesick.
Salah satu penyakit yang kerap melanda mereka yang bepergian jauh dari rumah untuk waktu lama adalah “homesick” alias kangen negeri sendiri, kangen makanan kampung, dan kangen rumah beserta orang-orang tercintanya. Maka, meski masa “sekolah” di Belanda ini hanya untuk waktu tiga pekan, tapi saat briefing di kantor Netherlands Education Support Office (Nuffic Neso) Jakarta, kami juga mendapat pembekalan bagaimana mengatasi‘homesick’ di negeri orang.
Catatan kenangan dua tahun silam, belajar di negeri yang suka berbantah.
Dasar teori. Memetakan masalah, bagian penting dalam memenangkan perdebatan. Photo taken from Anton Muhajir Facebook Album
Dua hari sebelum terbang ke Belanda, kami mendapat pengarahan singkat di kantor Netherlands Education Support Office (Nuffic Neso), lembaga yang memberi kami beasiswa. Dalam acara itu disampaikan tetek-bengek tentang negara Belanda, mulai dari kebiasaan bersepeda, cuaca dan musim, harga makanan, sampai fakta bahwa orang Belanda memiliki tinggi badan rata-rata di atas semua orang Eropa.
Bagi saya yang menarik saat ditekankan bahwa orang Belanda itu “gemar berdebat”. Pantas saja kan kalau negara ini terkenal sebagai kawah chandradimukanya ilmu hukum, mulai dari kampus hukum terkenal di Leiden, para advokat dan pejabat hukum Indonesia kebanyakan dari Belanda, sampai KUHP kita pun masih peninggalan pemerintah kolonial.
Catatan kenangan dua tahun silam, ketika sepeda jadi raja di Belanda.
Bersepeda di Stadion Amsterdam Arena. Bikers jadi prioritas pemakai jalan.
Jika anda ingin mencari kampanye hidup bersepeda secara nyata, maka Belanda adalah tempatnya. Di negeri kincir angin ini, tradisi bersepeda di berjalan jauh sejak tahun 1800-an. Apapun pangkatnya, mereka tak akan malu bersepeda. Mau pejabat, pebisnis, penyiar radio, atau ibu rumah tangga yang lagi jalan-jalan, sepeda menjadi sarana utama untuk transportasi jarak dekat.
Pilihan bersepeda juga masuk akal karena selain murah dan sehat, pemerintah Belanda sangat memanjakan para pengendara sepeda. Jalur khusus untuk pengendara sepeda ada di mana-mana, antar kota dan propinsi, dan bahkan sampai ke Jerman atau Belgia. Pada jalur bercat merah ini juga terdapat rambu-rambu lalu lintas, lampu merah, dan terowongan. Maka, kalau ada mobil melintas di perempatan atau sebuah bundaran, niscaya mereka akan memprioritaskan dua pemakai jalan, yakni pejalan kaki dan pengendara sepeda.
Catatan kenangan dua tahun silam, kenangan bergereja di Amstelveen
Suasana kotbah di GKIN. Ada teks bahasa Belanda.
Pekan kedua Mei 2010, saya berkesempatan beribadah di Gereja Kristen Indonesia Nederland (GKIN) Amsterdam. Gereja ini terletak di Amstelveen, kawasan pemukiman di pinggir kota Amsterdam. Selain di sini, GKIN ada di tujuh lokasi lain di Belanda, yakni di Schiedam, Dordrecht, Rijswijk, Den Haag, Arnhem, Nijmegen dan Tilburg.
Menuju GKI Amsterdam, dari Stasiun Central, saya beralih ke bis dalam kota nomer 170, ongkosnya 2 euro. Bis ini bertujuan akhir ke Uithoorn, tapi saya turun di halte Dijk Gravenlaan di kawasan Amstelveen. Hanya berjalan 100 meter, sampailah saya di sebuah gedung gereja “Pauluskerk”. Ibadah Minggu dimulai pukul 14.00 waktu Amsterdam dan siang itu dihadiri sekitar 90 orang.
Catatan kenangan dua tahun silam, mencicipi Paris dari berbagai sisi.
Di bawah keangkuhan Eiffel. Terwujud keinginan yang tak pernah terwujud.
Pada hari ke-17 menghirup udara Eropa, saya mencecap pengalaman 17 jam di Paris, ibukota Perancis yang dikenal sebagai kota mode, kota budaya, kota cahaya, kota romantis, kota seribu monumen, dan berbagai julukan lain.
Dengan reservasi tiket online eurolines senilai 83 euro pulang-pergi, kami bertualang menuju Paris. Eurolines merupakan jejaring bis internasional, yang melayani lebih dari 500 destinasi di 25 negara. Selain menyambungkan kota-kota besar Eropa seperti Amsterdam, Paris, London, Milan dan Barcelona, jaringan Eurolines juga merambah Maroko di benua Afrika.
Catatan kenangan dua tahun silam, meresapi suasana kemerdekaan di negeri penjajah.
Jantung kota Haarlem. Tradisi pesta musik tahunan.
Belum satu minggu memori pesta Queen’s Day setiap 30 April, saya menikmati pesta lain. Liberation Day, yang di Belanda diperingati setiap 4 dan 5 Mei menjadi perpaduan antara seremonial upacara dan isak tangis serta hura-hura mengekspresikan kebebasan. Ya, negara yang pernah menjajah Indonesia ternyata bisa juga menghayati makna kemerdekaan.
Perhatikan beda antara “liberation day” dan “independence day”, yang dalam bahasa lokal Belanda disebut dengan istilah Bevrijdingsdag. Kalau anda buka di kamus artinya adalah “hari pembebasan”, bukannya “hari kemerdekaan”. Bevrijdingsdag dirayakan untuk mengenang lepasnya Belanda dari cengkeraman tentara Nazi Jerman pada 1945. Di Amsterdam, upacara seremonial mengenang korban Perang Dunia II berlangsung pada 4 Mei malam, dipimpin langsung Ratu Beatrix, termasuk prosesi mengheningkan cipta selama 2 menit pada pukul 20.00.
Catatan kenangan dua tahun silam, menemukan warung Malang di Belanda.
Hira, bos rumah makan Sinar Djaya. Menciduk sendiri makanan bagi pelanggannya.
Betapa bersoraknya kami saat menemukan restoran Indonesia di Bussum, sebuah nama kabupaten di Belanda Utara yang tak pernah ada di peta dunia anda. Segala keluhan akan nasi dan makanan berkuah terselamatkan begitu menemukan sebuah rumah makan bernama “Sinar Djaya” yang terletak tak jauh dari pusat kota berpenduduk 30 ribu jiwa ini.
Restoran “Sinar Djaya” dikelola Hira Lal, seorang mantan pekerja di bursa efek Belanda yang banting setir menjadi wirausahawan kuliner. Hira berasal dari Kauman, Malang, dibantu dua teman sedaerahnya, Wawan asal Buring, dan Ali dari Kepanjen. Sepetinya umumnya orang Malang yang membiasakan diri dengan bahasa walikan, mereka selalu bangga mengaku sebagai “Kera Ngalam” di manapun berada.
Setiap negara punya satu hari besar yang dirayakan dengan pesta besar. Saya beruntung, dalam kesempatan tiga pekan mencecap udara negeri tulip, termasuk di antaranya melintasi hari kalender 30 April, yang di Belanda dikenal sebagai Koninginnedag alias Queen’s Day alias Hari Ratu.
Queen’s Day adalah sebuah pesta besar. Sepanjang hari penuh di hampir seantero negeri, rakyat berjoget dalam panggung terbuka dan membuka lapak dagangan menjajakan barang bekas mereka. Semalam sebelumnya, hura-hura bertitel Queen’s Night sudah dimulai, tentu semuanya diwarnai bir dan lautan oranye, warna kebesaran kerajaan Holland.
Catatan kenangan dua tahun silam, berkunjung ke kawasan remang-remang Amsterdam.
Red Light District Amsterdam. Pro-kontra legalisasi pelacuran.
Belum ke Jakarta kalau belum ke Monas, belum ke Surabaya kalau belum ke Suramadu, dan belum ke Yogya kalau belum ke Malioboro. Ungkapan-ungkapan semacam itu seperti menjadi penggalan wajib untuk menunjukkan “bukti” betapa kita telah menginjak sebuah kota, lengkap dengan landmarknya. Begitu pula saat tahu saya berada di Belanda, beberapa kawan menyapa, “Sudah ke Red Light District belum?”
Catatan kenangan dua tahun silam, serba-serbi menginjak Amsterdam.
Metro alias kereta bawah tanah Amsterdam. Pilihan lain transportasi cepat dan teratur..
Hari Minggu pertama di negeri tulip dipayungi cuaca cerah. Sebagian besar dari kami, 18 aktivis Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang hendak mengikuti kursus jurnalisme online selama tiga pekan di Radio Netherland Training Centre (RNTC) membulatkan tekad menjelajah ibukota Belanda.
Pelajaran pertama yang harus kami lewati untuk mencapai Amsterdam adalah bagaimana membeli karcis kereta api via mesin pencetak tiket otomatis. Kami pun langsung berakrab dengan mesin pencetak tiket dengan layar sentuh yang menyajikan layanan bilingual: Dutch and English. Pencet-pencet tangan di atas kaca, selesailah masalah. Saya memilih tiket ke Stasiun Amsterdam Central, untuk satu orang bolak-balik (return) pada hari Minggu, 25 April di kelas 2. Total uang koin yang mesti saya masukkan 8 euro 10 sen.